Senin, 13 Februari 2012

Jiwa Yang Terasing

Terdiam ku, saat ombak menggulung butiran pasir pantai

Terdiam ku, ketika mentari tertutupi awan mendung

Terdiam ku, saat kicauan burung tak lagi dapat ku dengar

Terdiam ku, ketika badai meluluhlantahkan kota

Terus terdiam, dan aku hanya bisa terus diam...

Raga ku memang disini, tapi jiwa ku melayang-layang entah kemana

Dimana jiwa ku? Jiwa yang terasing dengan suasana yang hadir dalam hidup ku

Jiwa yang terasing, tak mengerti dengan apa yang terjadi,

Tak merasakan indahnya matahari ketika terbenam di pantai dengan iringan suara gulungan ombak

Tak memperdulikan mentari yang hilang karena tertutup awan sebagai tanda bahwa hujan besar kan turun

Tak bisa mendengar indahnya sautan kicau burung

Tak mampu berlari meski badai tengah menghancurkan bangunan-bangunan kota di tempat aku berdiri

Jiwa yang terasing, haruskah terus aku terdiam?

Tak melakukan apapun, tak bangkit dan tak mau menerima keadaan?

Bukan, itu bukan manusia dewasa, seharusnya aku bangun

Coba lihat dan angkatlah dagu ini, pandangi dari pinggir pantai betapa indahnya mentari terbenam di ujung laut sana

Coba lihat dan angkatlah dagu ini, pelangi dengan bias warna nya yang indah hadir setelah hujan

Coba dengar, indahnya nyanyian kicau burung di sekitar ku

Coba buka mata, ayo melangkah dan lari, agar diri ini tak terseret badai

Jiwa yang terasing, yakinlah, percayalah, kuatlah, dan berpikirlah positif

Semua hanya sementara, dan selalu ada rencana indah dari Tuhan mu (Allah SWT)

Jiwa yang terasing, kembalilah pada raga yang menanti

Jiwa yang terasing, biarkan raga dan jiwa ini bersatu, agar lebih kuat menghadapi segalanya

Jiwa yang terasing, rencana Allah itu indah, meski terkadang tak sesuai apa yang dimau, tapi syurga adalah tempat kembali paling indah


-Int-

0 comments:

Poskan Komentar