Selasa, 25 Desember 2012

Tentang Aku dan Hijab ku

Hijab, hmmm, sudah 4tahun kiranya aku berusaha beristiqomah dengan jilbab ku ini. Jujur aku terlahir bukan dari orang tua yang pemahaman agamanya begitu baik, bahkan ayah ibu ku bisa dibilang menjalankan agama hanya sebatas shalat wajib dan puasa ramadhan. Ayah juga bukan lelaki yang rajin shalat berjamaah ke masjid. Ibu pun bukan ibu-ibu yang rajin ikut pengajian. Ahh, tapi terlepas dari itu semua, aku percaya Allah tuntun langkah kaki ayah ibu ku pada jalan yang baik. Meski biasa saja dalam mengamalkan agama islam (dulu), tapi aku yakin ayah dan ibu termasuk orang tua yang hanif dan ahsan.
Baiklah, izinkan aku share sedikit tentang diri ku saat belum mengenakan jilbab seperti sekarang ini. Dari kecil orang tua ku memang sudah mendidik ku untuk menjadi anak yang baik. Mereka juga perhatikan pendidikan agama untuk ku. Yah pokoknya aku masih terus lanjut ngaji sampai kelas 6 SD. Tapi saat SMP karena satu dan lain hal, aku berhenti ngaji. Ilmu agama yang ku dapat hanya sekedar dari pelajaran di kelas yang hanya satu kali pertemuan dalam satu minggu. Hmmm, agak bandel sih saat itu. Ga berhijab, ga berjilbab, ga banyak memahami agama ini, pergaulan antara wanita dan lelaki juga ga di perhatiin. Yaah, pokoknya bisa dibilang saat itu masa jahiliyah ku.
Tapi ehh tapi, entah kenapa meski saat itu belum begitu memahami agama ini, belum memahami tentang perintah berjilbab, aku ngerasain apa itu yang disebut dengan “tak nyaman”. Yaa, sejak kecil aku tidak merasa nyaman dengan gaya berpakaian ku. Aku simple, suka pakai kaos yang berukuran longgar, dan celana pun ga ketat. Padahal trend mode saat itu, lagi musim-musimnya pakaian ketat, celana pensil, dan lain-lain. Aahhh,, jujur saat itu aku tak mengerti. Aku tak suka dengan gaya pakaian seperti itu. Aku ga nyaman. Sampai-sampai aku merayu ibu, untuk diizinkan memakai jilbab. Tapi aku tak bisa memaksa, dan memang saat itu aku belum tau apa alasannya kenapa wanita muslim harus berjilbab. Mungkin saat itu aku hanya ingin keluar dari ketidak nyamanan berpakaian mode jaman kini. Jawaban ibu saat aku izin dibolehkan berjilbab waktu itu kira-kira seperti ini : “ga usah dulu, nanti saja berjilbabnya kalo kamu sudah kerja, soalnya susah cari kerja jaman sekarang.”
Huaa, saat itu aku hanya bisa ikut apa  yang ibu katakana. Aku yang belum mengerti arti hidup sebenarnya. Aku yang masih jauh dari pemahaman akan agama ini. Yaa, jadi berlanjutlah kisah aku belum berjilbab sampai akhirnya aku masuk ke sekolah menengah atas. Tapi atas permintaan ibu, aku masuk ke sekolah teknik, STM, sekolah teknik jurusan telekomunikasi. Waktu itu mau tak mau aku masuk ke sekolah itu. Karena jujur, aku masih senang-senangnya bisa bersama teman-teman, dan saat itu mayoritas teman-teman ku masuk ke SMA (bukan STM). Hmm, ambil positifnya aja deh, pasti ibu mau yang terbaik untuk aku. Alasan ibu saat itu, biar lulus sekolah bisa langsung kerja. Ahh iya, ayah ku sudah lebih dahulu Allah panggil saat aku duduk di kelas 4 SD. Jadi ibu yang berjuang sendirian membiayai sekolah dan hidup aku dan adik ku. Dengan alasan itu pula, aku tak mau menolak apalagi mengecewakan ibu.
Ok, setelah mengikuti ujian saringan, Alhamdulillah aku di terima di salah satu STM Telekomunikasi di Jakarta. Awal sekolah sempat terlupakan oleh keinginan untuk berjilbab. Di sekolah itu mayoritas siswa nya itu lelaki, dan dari satu kelas hanya ada sekitar 8 siswi. Di awal sekolah pun aku ga ngerti kalo Rohis di sekolah ku ini ternyata aktif dan subhanallah keren lah pokoknya. Satu semester awal aku ikutan temen-temen yang kabur dan menghindar kalo di ajak kakak kelas untuk dating keputrian. Diajak mentoring aja ga pernah dateng.
Diluar itu semua, masih kadang-kadang sesekali aku dateng ke acara kajian khusus akhwat, yang dilaksanakan setiap jumat siang. Semakin sering ikut, semakin merasa tertarik. Dan sampai akhirnya di semester kedua aku ikutlah kegiatan yang disebut “mentoring” atau orang sebut “halaqah”. Yaa, itu kajian rutin mingguan, dengan satu Pembina, lebih intensif dan mengikat. Aku sebut itu dengan “lingkaran ilmu”. Aku berkumpul setiap satu minggu sekali dengan 7 teman akhwat ku satu angkatan di STM tersebut, dan satu mba Pembina kami. Dari situ aku banyak belajar memahami islam, memahami arti hidup, mengenal Allah dan Rasulullah, saling mencintai karena Allah, dan banyak lagi.
Mungkin dari situ awal hati saya tergerak untuk kuatkan kembali niat berjilbab. Kali ini serius, dan kali ini aku sudah tahu apa landasan dan makna berjilbab. Yaitu Allahu ghoyatunna. Hingga akhirnya aku kembali meminta izin ke ibu untuk berjilbab untuk yang ke sekian kali, dan lagi-lagi jawaban ibu masih sama. Aku harus menunggu sampai aku lulus sekolah. Tapi maaf ibu, bukan maksud aku ingin melawan mu, bukan maksud aku ingin durhaka kepada mu. Tapi ini semua demi engkau juga, demi ayah, dan demi kehidupan akhirat kita. Uang tabungan satu tahun ku, yang di awal ingin ku pakai untuk membeli HP, karena saat itu HP ku sudah rusak. Dengan belajar arti niat karena Allah serta ikhlas, uang tabungan ku pun ku pakai untuk membeli jilbab, pakaian panjang, dan seragam sekolah yang panjang.
Bismillah, ya Allah aku niatkan segalanya hanya untuk Mu, hanya untuk menggapai ridhoMu. Sejak saat itu, di tahun 2008 kiranya, aku tutup diri ini. dan aku pun langsung memakai jilbab panjang, memakai rok. Hhehee, komentar teman-teman terlalu berani. Tapi bismillah, karena perintahNya harus dijalain secara menyeluruh. Sejak saat itu, aku belajar dan terus belajar. Aku hanya ingin menjadi hamba yang Allah ridhoi dan cintai. Aku hanya ingin ayah dan ibu ku tidak gagal masuk syurga karena aku. Aku hanya ingin ayah ibu dan keluarga ku bisa masuk syurga bersama.
Ga semulus yang dibayangkan, menjaga keistiqomahan itu tak mudah. Yaa, tak mudah. Ada lika liku. Ada banyak ujian. Dari ibu yang masih belum bisa menerima keputusan ku. Adik-adik ku yang juga suka mempengaruhi pikiran ibu. Aahh, pokoknya hal terberat saat itu yang aku rasakan adalah tidak mendapat dukungan dari keluarga, ibu dan adik malah tak turut menguatkan ku, yang ada mereka sempat mengatakan aku ikut aliran sesat. Allahu Rabb, bantu aku untuk kuat, bantu aku untuk bisa menuntun ibu dan adik ke jalan Mu.
Hati hanya bisa disentuh dengan hati. Kalimat itu yang terus ku yakini, dan aku percaya Allah pasti mengabulkan doa dari hambaNya, dan aku pun terus percaya Allah beri ujian karena Dia ingin kuatkan aku. Perlahan, meski tak dalam waktu yang sebentar, meski harus banyak kerikil ku lalui, meski begitu banyak karang menghadang jalan, tapi yaa itu, Alhamdulillah. Kekuatan keyakinan kepadaNya dan kekuatan doa, Allah membalikkan hati ibu dan adik ku. Sekarang ibu ku justru jadi orang pertama yang selalu support aku di jalan ini, jalan dakwah. Adik-adik ku, yang perlahan mulai mengerti dan mau memahami agama lebih dalam. Aahhh, indah, benar indah, buah kesabaran dan keyakinan itu indah. Doakan yah, sebentar lagi adik ku ingin memulai berjilbab juga. Semoga dia istiqomah.
Ahh iya, aku ingin sedikit bercerita beberapa ujian yang berhubungan dengan jilbab ku. Waktu pertama lulus dari STM itu, teman-teman lingkaran ilmu ku dapat tempat kuliah di beda-beda tempat. Alhasil kami berpisah. Ada yang kuliah ke bandung, ada yang ke Surabaya, dan ada juga yang kerja di Jakarta tapi kami tak satu kantor. Tau apa yang terjadi? Saat itu aku sedih, karena harus berpisah dengan mereka. Tapi kesedihan itu tak terlalu menyakitkan. Karena ada satu hal yang jauh menyakitkan untuk ku, aku merasa layaknya ada seseorang yang memukul keras punggung ku dari belakang, dan saat aku menoleh ternyata orang yang memukul ku adalah sahabat ku sendiri. Ini bukan seperti kisah remaja lain yang merasa terpukul karena pacarnya direbut sahabatnya. Tapi ini jauh lebih menyakitkan untuk ku saat itu, dan aku merasa teramat kecewa.
Teman yang selama ini aku kagumi, teman yang selama ini aku banggakan, teman  yang selama ini banyak mengajari aku mendalami dan memahami agama ini. Dia yang luar biasa semangat dalam dakwah, dia yang cerdas, dia yang senyumnya pun menyemangati, dia yang memberikan aku nasihat dan support saat aku curhat masalah ibu dan adik ku. Tapi ternyata dua tahun setengah kebersamaan itu adalah kebohongan dari nya. Allahu Rabb, apa arti ini semua. Kenapa dengan dia? Bukankah dia yang mengingatkan ku juga tentang larangan pacaran. Tapi dia ternyata selama ini pacaran. Sempurna dia sembunyikan semua nya. Rapat. Sejak saat itu, sejak perpisahan itu, yah dia tunjukkan bagaimana dia sebenarnya. Dan dia pun merubah penampilan syar’i nya.
Awalnya aku sedih, awalnya aku kecewa, sakit rasanya hati ini. Aku percaya, ada rencana indah dariNya, dan banyak hikmah ternyata dari kejadian itu. Sampai saat ini aku tetap menghargai nya, tetap menyayangi nya. Meski belum sanggup ku tarik kembali tangan nya, memapahnya kembali ke jalan ini. Izinkan doa ku terus ada untuk nya. Aku percaya pada kekuatan doa, dan aku yakin Allah akan bawa dia kembali ke jalan yang diridhoiNya. insyaAllah, meski tidak untuk saat ini, tapi suatu saat pasti. Ukhuwah ku dengan nya pun masih baik.
Terima kasih ukhti, dari mu aku terus bisa belajar. Dari mu aku bisa belajar banyak. Tentang kehidupan, tentang kekuatan menjaga keistiqomahan, tentang arti menghargai, tentang arti ketulusan bersahabat dan tentang arti kepercayaan pada Illahi. Berjanjilah, suatu saat kau kan kembali pada jalan ini, jalan yang Allah ridhoi.
Hhehee, lain dari itu. Tentang keistiqomahan dalam berjilbab lagi-lagi aku dapat pelajaran teramat berarti. Dan mungkin hikmah ini yang menjadi titik awal kepercayaan ibu. Lulus STM tahun 2010. Memang tujuan ibu menyekolahkan ku disana agar lulus aku bisa langsung kerja. Sekolah itu yang dikenal orang-orang sekolah yang baik, yang lulusan nya mayoritas sukses dan mendapat tempat kerja yang baik. Nyata nya mendapatkan kerja tak selamanya mudah. Aahhh, tapi memang mudah sebenarnya, hanya saja Allah selalu carikan tempat terbaik untuk hambaNya.
Lagi lagi kuncinya adalah yakin kepada Allah, berhusnudzhan kepadaNya dan terus berusaha serta berdoa. Lima bulan setelah lulus, aku masih belum mendapatkan pekerjaan yang pasti. Berbeda dengan teman-teman yang lain, yang sudah mendapatkan pekerjaan. Satu hal yang sempat membuat saya sedih adalah ketika ibu bilang “udah maka nya jilbabnya biasa aja tan, ga usah kaya gitu, tuh liat temen mu aja udah rubah penampilan jilbab nya udah dapet kerja kan sekarang”. Jleb. Sumpah itu jleb banget buat aku. Apa iya harus seperti itu? Aku terus terpikir oleh omongan ibu dan kenyataan yang ada di depan mata. Sudah beberapa kali interview hasilnya  masih belum ada. Bahkan pernah di salah satu interview ku, di salah satu perusahaan yang saat aku datang kesana, aku mendapat kalimat hebat yang membuat aku makin terus terpikirkan oleh perkataan ibu. Kata manager yang mengniterview “maaf sebelumnya, aku lupa bilang, kalo di perusahaan ini ga ada yang berjilbab, jadi ga mungkin kan kalo saya minta kamu untuk lepas jilbab”. Aku hanya mampu berkata “baik, terima kasih pak”. Keluar dari kantor itu, dan di perjalanan rasanya mau nangis. Allahu Rabb, in ujian mu lagi untuk istiqomah ku. Ga boleh intan, ga boleh, kamu kuat. Aku bisa. Bismillah, yakinin dan kuatkan lagi hati.
Saat itu aku merasa sendiri, sudah terpisah dari teman2 yang sudah mulai belajar di universitas masing-masing. Jadi yah aku harus berusaha sendiri, belajar nguatin diri sendiri. Yaa, kunci nya satu, yakin, dan luruskan lagi niat kita. Hhehee, percaya sama Allah.
Alhamdulillah, setelah lebaran, dapat kabar gembira. Dan aku dapat kerjaan, thank you Allah, aku diberi kesempatan di salah satu perusahaan operator telekomunikasi. Yaa, ini buah keyakinan dan kepercayaan. Bukan sekedar karena ini kantor besar, tapi lebih baik nya adalah memang ini tempat terbaik yang Allah beri untuk aku. Kenapa? Karena disini, aku bisa menjaga jilbab ku, tak perlu ada lagi goyah hati ini untuk merubah hijab ku. Alhamdulillah, sampai sekarang, insyaAllah aku masih bisa pertahankan jilbab syar’i. disini aku kenal banyak orang-orang baik. Mereka cerdas, dan mereka termasuk orang-orang yang mengamalkan dengan baik pemahaman agama mereka. Di kantor ini, yang kajian nya komplit. Ada belajar bahasa arab, ada liqo, ada keputrian, ada kegiatan sosialisasi, tahsin, dan banyak lagi lainnya.
Selain aku dapat pengalaman dunia di kantor ini, aku juga dapat banyak ilmu agama. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Memang benar “bahagia itu dekat, ada pada hati yang bersyukur”. Sejak saat itu, ibu tak lagi menghalangi jilbab ku, justru ibu berbalik menjadi lebih baik. Ibu pun mulai ikut berjilbab. Ibu yang selalu mendukung aku. Ibu yang menyemangati aku ketika terkadang aku terjatuh. Yaahh, pokoknya ibu adalah guardian angel ku. Intan sayang mama karena Allah ^_^
Yaa, itu lah kisah aku dan jilbab ku, sampai saat ini, Alhamdulillah Allah masih jaga aku di jalan ini. Semoga bermanfaat.
 
-Int-

0 comments:

Poskan Komentar