Rabu, 26 September 2012

Jalan Bahagia

Karena bahagia itu dekat, ada pada hati yang bersyukur.
 
Alhamdulillah, Allahu Rabb, terima kasih atas segala nikmatMu yang tak terhitung untuk ku. Ahh, tak hanya untuk aku, Engkau Maha Adil, semua ciptaanMu, Engkau beri kenikmatan yg teramat sangat luar biasa. Namun kami lalai, kami khilaf, kami banyak tak menyadari, dan kami sering tak bersyukur. Astaghfirullah, ampuni kami ya Rabb. Tetapkanlah hati ini pada ketaatan, dan jangan palingkan hati kami pada kemunkaran setelah taat bersemayam.
 

Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan? Q. S Ar-Rahman : 13

Iya, bahagia itu dekat, ada pada hati yang bersyukur. Karena sering kita tak sadar, karena sering kita lupa. Ketika kita merasakan sedih, mendapat masalah, kecewa karena suatu hal, dll. Mungkin itu semua tipu daya syetan yang tak pernah jera menggoda kita, hingga akhirnya kita menjadi teman mereka, yang akan menemani mereka di neraka kelak. naudzubillah. Iya, seolah dunia runtuh, seolah langit bergemuruh, seolah badai menerjang, seolah ombak mengamuk. Apapun itu, sekecil apapun masalah yang kita dapat, sedikit apapun kekecewaan yang kita dapat. Tak jarang hal-hal tersebut menggerogoti hati agar jauh dari syukur. Hingga keluh lah yang keluar dari diri. Hingga akhirnya merasa mendapatkan ketidak-adilan. Hingga galau pun menghampiri jiwa.

Hei, coba buka mata! Lihat lagi, dan perhatikan! Bukankah masalah mu hanya persoalan kecil. Kecewa mu pun bukan hal yang seharusnya mampu mengubah hari mu menjadi kelam. Masalah yang menimpamu tak besar kawan! Tak seberapa! Ihhh, malu sama Allah, nikmat Nya begitu banyak, tapi syukur kita sedikit sekali.

Beberapa kejadian belakangan, seperti menampar saya. Kalimat diatas, memang cocok untuk diri ini. Dua kali Allah pertemukan aku dengan teguran yang rasanya seperti tamparan kepada saya, agar saya sadar. Alhamdulillah, terima kasih Engkau masih peduli dengan ku ya Rabb, kau ingatkan ku. 

Kejadiannya saat pulang kuliah pekan kemarin, tepatnya di metromini yang saya naiki. Ada sepasang kekasih tuna netra, ingin menuju suatu tempat, yang sepertinya mereka pun tidak mengetahui persis tempat tersebut. 
"Pak, nanti turunkan kami di Jalan Bahagia yah", ujar salah seorang dari mereka. 
Pak Supir menjawa, "itu dimana yah pak?"
"Deket grogol Pak", jawab mereka
Singkat cerita, mereka pun agak bingung dengan lokasi pastinya. Tapi akhirnya ada salah satu penumpang yang mengetahui jalan tersebut.

Kejadian yang menegur saya berikutnya adalah, sabtu dua pekan lalu kira2 terjadinya. Saat akan kondangan ke salah satu teman di daerah Tangerang. Banyak pembicaraan antara aku dengan seseorang yang menemani ku kondangan. Hingga sampai teman ku itu mengatakan tentang kisah anak tetangga nya yang tuna netra dan umurnya sudah sangat cukup untuk menikah. Kira-kira seperti ini "Tan, tetangga ku punya anak, dia mata nya agak bermasalah, yang satu ga bisa liat, yang satu bisa untuk melihat. Tapi harus di dekatkan objek yang akan dilihat, baru bisa dibaca. Tapi dia pinter ngaji nya. Aku pingin deh bantu dia cari calon suami".
Entah apa maksud takdir Allah, saat pulang kampus sore hari itu juga. Orang yang duduk tepat disebelah ku memiliki kekurang fisik sama seperti yang disebutkan oleh teman ku tadi. Hanya beda nya ini "Lelaki". Awalnya aku tak sadar, tapi ketika melihat orang disamping menempelkan HP ke salah satu matanya karena membaca sms. Dan saat itu juga terbesit dalam fikir ku "ahh, pingin deh nanya no HP nya, terus kenalin ke anak tetangganya Mba...". Yah, tapi ternyata keberanian ku belum besar. Aku tak tega, dan takut menyinggung.

Hmm, pelajaran buat ku adalah "Hei intan, kamu lihat kan? Kamu tau kan sekarang? Kenapa? Masih merasa betapa kesedihan yang ada pada diri mu itu teramat besar? Ihhh, siapa kamu? Kamu makhluk kecil. Tapi liat, betapa kenikmatan Allah sempurna untuk mu. Kau masih bisa melihat, meski mata minus mu harus membuat mu tak bisa melihat dengan jelas dengan jarak lebih dari 1m. Mata mu masih bisa melihat, kau tak memiliki cacat fisik. Semua organ tubuh mu normal. Allahu Rabb, ampuni aku. Maaf karena selama ini banyak keluh dari ku."

Iya, aku percaya, sedih yang aku alami. Kecewa yang menimpa ku. Masalah yang terlihat besar, padahal amat kecil. Itu semua karena aku yang ternyata lalai bersyukur.

Udara yang kau hirup adalah nikmat yang teramat besar. Coba bayangkan ketika aku harus bernafas menggunakan tabung gas udara bantuan. Berapa biaya yang harus ku keluarkan? Ahh, aku bukan orang kaya harta untuk membayar itu.

Kedipan mata, nikmat yang kadang kita lupakan. Bayangkan, jika kita tak bisa berkedip? Dan ternyata kedipan mata itu adalah lagi-lagi nikmat yang luar biasa.

Coba bayangkan jika kau tak mampu melihat dengan kedua mata mu? Yah, seperti kisah diatas. Betapa akan kau rasakan hidup dalam kegelapan. Susah untuk menuju suatu tempat. Betapa dunia yang indah ini tak bisa kau saksikan. Ahh, aku tak tau apa yang bisa ku lakukan jika aku seperti itu.

Teman-teman ku baik, mereka layaknya keluarga. Bahkan tak sedikit yang sudah seperti kakak ku sendiri. Mereka peduli. Subhanallah, ini bukti kebaikan Allah yang lain.

Keluarga yang luar biasa. Adik-adik yang mewarani hidup ku. Ibu yang jadi guardian angel ku. Mereka mengajari banyak arti hidup. Dan lagi, Allahu Rabb, betapa nikmat mu luas untuk setiap hambaMu.

Maaf jika aku masih banyak dan sering mengeluh. Maaf jika aku masih sering lalai bersyukur. Dan memang bahagia itu hanya ada pada mereka yang bersyukur. Karena jika masih ada sedih atau kecewa dalam hati, itu artinya masih kurang syukur ku kepada Mu.
Tuntun langkah ku agar aku hanya berjalan dibawah naungan RidhoMu ya Allah :)

Ampuni aku ya Rabb.

#Note to My Self

Semoga bermanfaat ^_^

-Int-

0 comments:

Poskan Komentar