Senin, 10 September 2012

Aku dan Tarbiyah


Jadi kali ini ceritanya lagi mengenang memori semasa SMK dulu, kira-kira 4 tahun lebih yang lalu kisah ini bermula. Sebut ini “TARBIYAH” yang secara bahasa kita kenal dengan “PEMBINAAN”. Diawali dari MOS (Masa Orientasi Siswa) SMK Telkom SPJ angkatan 16. Saya dapat kelompok “PASOPATI”, dan kelompok ini bertempat di kelas 1 tel 1 (yang ternyata juga jadi kelas pertama saya di SMK ini). Baiklah, harus diakui saat itu saya hanya manusia biasa, sangat biasa (looh, sekarang juga manusia biasa sih). Hhehee, maksudnya saat itu saya jauh sekali mengenal agama saya (islam), padahal keluarga saya keluarga muslim, dari kecil juga saya sudah ikut pengajian (tapi hanya sebatas membaca alquran), TK juga di TK muslim. Saat SD dan SMP saya akui saya begitu sedikit memahami islam dan mengamalkannya, bahkan shalat juga susah, harus sering kena marah orang tua, masih bolong-bolong, dan puasa ramadhan pun masih kadang dengan mudah berasalan untuk tidak puasa. Astaghfirullah, ampuni dosa saya di masa lalu, masa kini dan berikutnya ya Allah, jauhkan saya dari perbuatan yang Engkau tak ridhoi. Aamiin

Baiklah itu masa lalu, masa yang bisa saya jadikan pelajaran agar tak mengulang kesalahan yang sama. Sampai saat itu (kembali saat MOS) saya pun masih belum begitu mengenal “ROHIS”, mungkin hanya sekedar angin lalu yang pernah saya dengar (saat itu), apalagi yang disebut “TARBIYAH”. Tapi itu dulu yah. Nah, waktu MOS disela-sela perasaan jengkel karena harus melalui hari dengan omel2an kaka-kaka senior, disuruh ini itu, lari sana sini, makan ini itu, dll deh pokoknya. Sebel tau ka, kok berasa di semena-menain. Hhihii, tapi pas diinget-inget lucu juga, ternyata ga akan jadi kenangan manis kalo ga di MOS seperti itu. Tiga hari masa orientasi, lelah penat sebel bisa terlupakan saat jam istirahat siang. Shalat dzuhur bersama di Masjid Ar-Rayan, seusai shalat ada agenda “MENTORING”. Dua agenda itu yang bisa sejenak jengkelnya MOS terlupakan, gimana ga? Masjid hijau besar, asri dengan pepohonannya, dan angin yang semilir mendamaikan perasaan yang tak mengenakan saat itu.  Saat menjejakkan kaki di majid tersebut ada sambutan dari kakak-kakak cantik nan ramah berjlbab rapih. Dan setelah shalat diberi waktu istirahat, sambil duduk santai terkantuk mendengarkan nasihat dan wejangan ringan dari kakak-kakak itu. Apa ini? Mereka ramah, cantik, mereka pun tersenyum (berbeda dengan kakak-kakak MOS yang seharian menampilkan tampang jutek), mereka santun, mereka mendengarkan keluh kesah kami, menyemangati kami. Ahhh, Allahu Rabbi, indah, teramat indah, inilah “ISLAM” yang indah. Mungkin saat itu saat pertama hati saya tersentuh. Dan itu lah awal saya mengenal “TARBIYAH”.

Sampai akhirnya masa saya sekolah, saya pun mengikuti “MENTORING” dari kelas satu semester dua, karena di semester satu saya masih sering tidak ikut, bolos, ga ikut keputrian juga, mungkin itu yang dimaksud dengan “teman itu mengikuti agama temannya”, yah saat itu saya masih terpengaruh dengan pemikiran2 teman-teman. Tapi tidak putus asa kakak-kakak rohis saat itu, terus mengingati kami untuk hadir di acara keputrian, untuk terus ikut kajian-kajian yang diadakan oleh anak-anak rohis. Entah alasan apa, atau bisa jadi ini salah satu dari banyak petunjuk Allah. Lewat kakak-kakak rohis, lewat keputrian, lewat ROHIS, saya tergerak untuk rutin mengikuti “MENTORING”.

Ok, saat itu saya berkumpul dengan 7 teman akhwat lain dari angkatan saya, tapi kami ada yang beda kelas dan beda jurusan. Kami ber-8 dengan satu pembina, berkomitmen di awal untuk rutin bertemu di mushala sekolah setiap sore (pada satu hari yang telah disepakati). Aku, ika, dwima, neni, ayyu, ami, dinar dan tiara, dan bu nurul sebagai pembina kami. Mengkaji ilmu agama bersama, mendengarkan tausyah dan nasihat, saling mengingatkan, saling menguatkan dikala ada yang mengendur, belajar bersama tak sekedar tentang agama tapi juga pelajaran di kelas, sharing-sharing dengan apa yang terjadi, qhadaya, silaturahim, rihlah, bersama mengurus organisasi ROHIS, bahagia bersama, menghibur tatkala ada yang bersedih, mengunjungi yang terkena musibah, hafalan al-qur’an bersama, program ta’ahi (menyaudarakan), mabit, i’tikaf, kultum, kondangan ke guru yang walimahan (karena anak rohis sering dapat undangan dari guru2), perjalanan minal masjid ilal masjid, mengunjungi islamic book fair, jalan-jalan ke planetarium, sampai perpisahan yang amat menyenangkan di kebun raya bogor.

Yah, itulah saya dan tarbiyah awal saya. Mengadakan daurah untuk adek2 kelas, ikut munasharah dari istiqlal-HI-istiqlal lagi, sampai membicarakan persiapan kebaya untuk acara wisuda. Begitu banyak kenangan bersama mereka, begitu banyak kebahagiaan bersama mereka. Mengenal islam lebih dalam, dan saya pun merasakan kebahagiaan yang teramat indah. Mungkin inilah nikmatnya saling mencintai karena Allah. Ukhti fillah, aku merindukan kebersamaan itu, kita yang rela harus pulang malam saat liqo, yang berjuang bersama melanjutkan gerbong dakwah di ROHIS SMK TELKOM @16, yang meski banyak tugas sekolah tapi tak pernah keluh saat harus menyelesaikan persiapan PHBI, dan banyak lain nya.

Dari tarbiyah, saya mengenal cinta, cinta karena Allah. Berukhuwah tanpa melihat siapa miskin siapa kaya, siapa pintar siapa kurang pintar, siapa jelek siapa cantik. Dari tarbiyah tarbiyah saya mengenal apa itu perjuangan, apa itu persahabatan, mengetahui betapa tak mudahnya beristiqomah. Dari tarbiyah saya yang tak suka membaca menjadi begitu suka membaca buku, begitu menyenangkannya mencari ilmu (agama), begitu mengasyikan belajar membaca al-qur’an. Dari terbiyah saya belajar untuk terus mengenal Allah, mengenal Rasulullah, mengenal islam. Dari tarbiyah menyayangi keluarga menjadi hal termanis yang mendamaikan. Dari tarbiyah saya pun merasakan bahwa Allah senantiasa memudahkan jalan hambaNya. Dari tarbiyah, saya tak hanya sekedar mengenal teman-teman satu lingkungan rumah, tapi luas, teramat luas jaringan ISLAM itu, kami bersaudara, dan persaudaraan itu indah.

Dari tarbiyah saya pun pernah meraskan hal lucu seperti sering dapat ledekan aneh dari orang-orang, sampai di ledek “neng, istrinya amrozi yah?” juga pernah. Sempat di tentang keluarga karena saya dituduh ikut aliran sesat. Dilarang untuk berjilbab panjang dan berpakaian aneh. Meski hal-hal seperti dibilang “sesat” teramat menyakitkan saat itu, tapi saya tak patah, karena teman-teman saling menguatkan saat itu. Satu perkataan seorang guru “gpp kita dibilang sesat, toh alhamdulillah kita sesat dijalan yang benar”. Hhehee, yah gitu deh, senang dan susahnya saya dan tarbiyah. Kuncinya asalkan kita yakin, maka kuatkan keyakinan kita selagi kita tahu keyakinan itu benar dan ada landasan yang kuat (yaitu alquran, hadits dan sunnah rasul). Hambatan sebesar apapun tak masalah, dan akhirnya keyakinan kita dapat melelehkan setiap permasalahan yang hadir. Seberat apapun itu, asalkan kita mantapkan keyakinan kita, dan berusaha serta doa kepada Allah. insyaAllah orang-orang yang mungkin awalnya menentang kita, menganggap kita aneh, melarang kita, akhirnya mereka pun lebur. Karena kekuatan keyakinan kita kepada Allah yang menuntun hati mereka. Hingga tak ada lagi larangan atau cemoohan, yang ada hanya dukungan, persetujuan dan semangat dari mereka. Termasuk keluarga. Karena menyentuh hati harus juga dengan hati ^_^

 Rabbi, izinkan hamba untuk terus membina diri, untuk terus mengenal Mu, mengenal Rasulullah, mengenal islam. Dan izinkan aku untuk terus mentarbiyah diri ini hingga hanya karena ridho Mu hari ku terhiasi. Dan izinkan aku dan saudara-saudara ku (seagama) bisa merasakan betapa indahnya cintaMu dan mencintai karena Mu. Hingga kami beristiqomah karena tujuan hidup kami hanya satu yaitu ridho Mu (q.s al baqarah – 207).

-int-

2 comments:

blush on mengatakan...

waah,, iy mos itu kyk kita disuatu rumah yg isinya singa semua. takut2 gtu dah.
lalu di siang hari disambut dg senyuman yg bikin tenang.
yg gue inget senyum paling manis adlh milik ka mega loh. :D

Intan Wahyuni mengatakan...

hhehee, waktu itu mos sama ka mega yah lidia?
aku sama ka irma dan ka feby, mereka juga cantik-cantik loh :)

Poskan Komentar